MADIUN X’PRESS / EDISI 7 / MINGGU 4 / JULI / 2008
Kembali ke jati diri. Itulah yang selalu didengungkan oleh Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate ( SHT ) termasuk dalam pelantikan pengurusan SHT Pusat beberapa waktu lalu, Tarmadji juga berkali – kali mengingatkan agar SHT kembali ke jati dirinya.
Mengapa SHT harus kembali ke jati diri ? Tarmadji jelas mempunyai alasan yang masuk akal. Sebab 20 tahun SHT terseret keluar habitat. Meski ia tidak menafikan kalu secara pribadi “sedulur” SH Terate boleh saja berpolitik. “Saya tidak melarang kalau secara pribadi ikut berpolitik. Kita tak akan ikut campur urusan pribadi. Tapi begitu masuk kandang, harus bersikap sebagai anggota SHT. Lepas segala macam atribut,”tegasnya.
Menurut Tarmadji, sudah cukup lama SHT terkecoh situasi dan kondisi hingga mengakibatkan lupa terhadap jati dirinya. Dengan pelantikan pengurus Pusat SHT ini, ia berharap agar semua ditata kembali. “SHT harus menjadi contoh di wilayah masing-masing. Dan juga wilayah itu menjadi tanggungjawab masing-masing,”tegasnya.
Apalagi di Madiun sendiri, SHT telah mendapat pengakuan dari pemerintah setempat, lantaran telah mampu menciptakan situasi yang sangat kondusif di Madiun. Lebih-lebih terkait dengan Pilkada baru lalu. “Pengakuan ini menjadi beban kita,”ujarnya.
Tarmadji juga mengkritik, tentang anjloknya prestasi pesilat dari Madiun, yang notabene merupakan pusat dari SHT. Termasuk dalam PON baru lalu Jatim merupakan gudangnya pesilat, Nganjuk jadi juara, Kaltim juga. SHT juara umum untuk pesilat, tapi sayangnya tak ada yang dari Madiun,”katanya kecewa.
Menyinggung masalah kepengurusan, Tarmadji menegaskan bahwa pengurus yang dilantik itu berlaku sak lawase ( selamanya ). “Sepanjang tidak melanggar peraturan, pengurus itu berlaku sak lawase,”tegasnya.
Dan ia berpesan kepada pengurus, agar menjadikan orang yang tidak mengerti menjadi mengerti. “itu yang saya hormati.



