.

SAATNYA SH TERATE KEMBALI KE JATI DIRI

Posted by PADEPOKAN WESI AJI PSHT SEMARANG On 7.28.2008 3 comments


MADIUN X’PRESS / EDISI 7 / MINGGU 4 / JULI / 2008

Kembali ke jati diri. Itulah yang selalu didengungkan oleh Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate ( SHT ) termasuk dalam pelantikan pengurusan SHT Pusat beberapa waktu lalu, Tarmadji juga berkali – kali mengingatkan agar SHT kembali ke jati dirinya.

Mengapa SHT harus kembali ke jati diri ? Tarmadji jelas mempunyai alasan yang masuk akal. Sebab 20 tahun SHT terseret keluar habitat. Meski ia tidak menafikan kalu secara pribadi “sedulur” SH Terate boleh saja berpolitik. “Saya tidak melarang kalau secara pribadi ikut berpolitik. Kita tak akan ikut campur urusan pribadi. Tapi begitu masuk kandang, harus bersikap sebagai anggota SHT. Lepas segala macam atribut,”tegasnya.

Menurut Tarmadji, sudah cukup lama SHT terkecoh situasi dan kondisi hingga mengakibatkan lupa terhadap jati dirinya. Dengan pelantikan pengurus Pusat SHT ini, ia berharap agar semua ditata kembali. “SHT harus menjadi contoh di wilayah masing-masing. Dan juga wilayah itu menjadi tanggungjawab masing-masing,”tegasnya.

Apalagi di Madiun sendiri, SHT telah mendapat pengakuan dari pemerintah setempat, lantaran telah mampu menciptakan situasi yang sangat kondusif di Madiun. Lebih-lebih terkait dengan Pilkada baru lalu. “Pengakuan ini menjadi beban kita,”ujarnya.

Tarmadji juga mengkritik, tentang anjloknya prestasi pesilat dari Madiun, yang notabene merupakan pusat dari SHT. Termasuk dalam PON baru lalu Jatim merupakan gudangnya pesilat, Nganjuk jadi juara, Kaltim juga. SHT juara umum untuk pesilat, tapi sayangnya tak ada yang dari Madiun,”katanya kecewa.

Menyinggung masalah kepengurusan, Tarmadji menegaskan bahwa pengurus yang dilantik itu berlaku sak lawase ( selamanya ). “Sepanjang tidak melanggar peraturan, pengurus itu berlaku sak lawase,”tegasnya.

Dan ia berpesan kepada pengurus, agar menjadikan orang yang tidak mengerti menjadi mengerti. “itu yang saya hormati.




SEKAPUR SIRIH DARI KAMI

Posted by PADEPOKAN WESI AJI PSHT SEMARANG On 7.17.2008 1 comments


Beberapa waktu lalu ada email yang masuk ke admin yang isinya adalah suatu kebingungan yang mungkin disebabkan mungkin karena ketidak tahuan atau karena benar – benar tidak tahu. Adapun hal yang dipermasahkan adalah tentang SH tanpa embel – embel, SH Terate dan SH Winongo, SH Wesi Aji, Wesi Kuning atau embel – embel yang lain, dan juga masalah arogansi dan tawuran yang sering melibatkan warga PSHT.
Sebenarnya hal ini sudah banyak di ulas diberbagai situs / blog SH Terate, tetapi karena email ini di tunjukkan kepada blog Padepokan Wesi Aji PSHT Semarang maka tidak salahnya untuk kami bahas juga.
Untuk membahas masalah tersebut diatas tentulah tidak bisa lepas dari sejarah, dan sejarah yang akan kami uraikan berikut ini adalah sejarah yang dilihat dari koridor Persaudaraan Setia Hati Terate dan mohon dengan hormat untuk menelaahnya dengan seobyektif mungkin.

I. Sejarah Berdirinya PSHT

Persaudaraan Setia Hati Terate didirikan oleh Ki Hajar Hardjo Oetomo alias Judodihardjo. Beliau lahir pada tahun 1890 di Desa Pilangbango Kodya Madiun, beliau adalah salah satu murid dari Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang merupakan salah satu warga Persaudaraan Setia Hati ( SH ).
Pada tahun 1905 Ki Hajar Hardjo Oetomo lulus sekolah Kls.II/HIS (SD) kemudian magang di SD Beteng Madiun. Kemudian keluar dan pindah menjadi pegawai kereta api (ss) sebagai Leering Reambte di Bondowoso ,Penarukan dan Tapen.
Pada tahun 1906 menjadi mantra pasar Spoor Madiun. Empat bulan kemudian ditempatkan di Desa Mlilir, Dolopo, Uteran dan Pagotan Madiun
Sekitar Tahun 1916 beliau bekerja di Pabrik Gula Rejo Agung Madiun tapi tidak lama bekerja beliau juga keluar. Kemudian pada tahun 1917 beliau bekerja sebagai pegawai rumah Pengadilan Madiun.Pada tahun ini pula beliau di terima bekerja di Stasiun Kereta Api Madiun sebagai pekerja harian.
Dengan semangat dan jiwa patrionalisme dan nasionalisme beliau mendirikan perkumpulan Harta Jaya yang tujuan utamanya adalah memberantas rentenir yang dilakukan oleh antek – antek penjajah. Bersamaan dengan itu pula lahirlah VSTP (persatuan Pegawai Kereta Api ) dan Ki Hajar diangkat sebagai Hoofd Komisaris Belanda Madiun. Pada tahun ini pula beliau belajar Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo.
Pada tahun 1922 Ki Hajar Hardjo Oetomo masuk Serikat Islam ( SI ) dan ditunjuk sebagai pengurus Selanjutnya SI di jadikan sebagai wadah perjuangan untuk mengusir penjajah dari persada nusantara untuk mencapai Indonesia Merdeka
Oleh karena itu Persaudaraan Setia Hati menurut pandangan dan tujuan Ki Harjar Hardjo Oetomo adalah :
  1. Untuk menggalang persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia
  2. Setia Hati khususnya Pencak Silat dapat dipergunakan sebagai alat perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.
Namun hal itu menurut Ki Ngabehi Soerodiwiryo, bahwasanya Persaudaraan Setia Hati bukan merupakan wadah atau alat perjuangan bangsa melainkan Setia Hati adalah perkumpulan Pencak Silat, yang mana anggotanya kebanyakan terdiri dari orang – orang pribumi kaum ningrat atau bangsawan dan bahkan pada saat itu Bangsa Belanda yang merupakan pekerja kereta api.
Sehingga dengan diterimanya orang – orang pekerja kereta api Bangsa Belanda untuk ikut belajar Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati, menjadi awal pertentangan antara Ki Hajar Hardjo Oetomo dengan Ki Ngabehi Soerodiwiryo.
  1. Ki Ngabehi adalah: Bahwa ilmu Setia Hati tidak membedakan Suku, Agama maupun Ras.
  2. Ki Hajar Harjdo Oetomo adalah : Bahwa dengan masuknya / diterimanya Bangsa Belanda untuk belajar di Setia Hati merupakan hal yang sangat riskan / berisiko tingga karena dapat menjadi musuh dalam selimut, menurut beliau hal ini merupakan suatu hal yang sangat prinsip bagi perjuangan bangsa karena Pencak Silat Setia Hati khususnya merupakan salah satu alat perjuangan mencapai kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Seiring dengan hal itu ki Hajar Hardjo Oetomo sempat mengambil keputusan terakhir, dimana satu – satunya jalan adalah mengundurkan diri dari Persaudaraan Setia Hati.
Kemudian beliau dengan berat hati mengajukan / ijin restu untuk mendirikan perkumpulan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Muda ( SHM ) namun permohonan tersebut oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo tidak dijawab sepatah katapun.
Walaupun tidak ada jawaban dari Ki Ngabehi Soerodiwiryo , Ki Hajar Hardjo Oetomo tetap dengan pendiriannya yaitu mendirikan Perkumpulan Pencak Silat Persaudaraan SH Muda di Desa Pilangbango Madiun
Dikarenakan adanya latihan di Pilangbango Madiun oleh Ki Hajar Harjdo Oetomo akhirnya SHM dicap SH Merah ( Komunis ) oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo. Karena merasa dipolitisir sedemikian rupa dan untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan maka nama PSHM dirubah menjadi PSC ( Pencak Silat Club )
Namun umur PSC tidak panjang karena dibubarkan oleh Belanda karana dianggap membahayakan mengingat ditempat tersebut banyak pemuda – pemuda Indonesia digembleng dan dilatih pencak silat, dan dikwatirkan hal tersebut akan digunakan untuk melakukan tero – terror atau pemberontakan terhadap Belanda.
Dengan dibubarkan PSC oleh Belanda tidak menjadikan semangat perjuangan Ki Hajar Hardjo Oetomo surut. Dengan siasat politik gerilyanya, Pencak Silat Club diganti namanya Pemuda Sport Club. Hal tersebut merupakan suatu bagian srtategi politik perjuangan dengan semata – mata untuk mengelabuhi Belanda.
Pada Tahun 1922 adalah merupakan tolak ukur atau pokok awal berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate.


II. Setia Hati dan SH Terate

Sebenarnya hal ini sudah kami bahas dib log ini dengan judul RENUNGAN, tapi tidak ada salahnya jika kami mengutipnya lagi :
Kita sebagai warga / orang PSHT harus mengakui bahwa SH yang didirikan oleh Ki Ageng Surowiryo adalah embrio dari PSHT. Sedangkan Persaudaraan Setia Hati Terate ( PSHT ) itu sendiri telah berdiri pada tahun 1922 di Desa Pilangbango Madiun oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo alias Judodiharjo, dan ajaran / ilmu yang ada di PSHT pun pasti berbeda dengan SH yang didirikan oleh Ki Ageng Surowiryo, Sehingga jika sampai saat ini masih ada warga PSHT yang masih berkiblat pada SH / Lebih bangga dengan SH tidak pada PSHT, sepertinya kadar kesetiaan pada Organisasi PSHT perlu untuk dipertanyakan. Apakah kita akan lebih bangga dengan orang tua yang bukan kandung dibandingkan dengan orang tua kandung kita sendiri ( PSHT ) ??. Sekarang marilah kita tanyakan pada hati nurani yang paling dalam, sebenarnya kita warga SETIA HATI atau warga Persaudaraan Setia Hati Terate ( PSHT ) ??
Semoga sedikit tulisan ini dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua, Warga Persaudaran Setia Hati Terate.

Semoga kutipan artikel diatas dapat membedakan antara SH tanpa embel – embel dengan SH Terate. Karena sudah dapat di pastikan sejarah dan perkembangan Persaudaraan Setia Hati dan Persaudaraan Setia Hati Terate berbeda seiring berjalannya waktu.


III. SH Winongo

Untuk bahasan ini kami mohon maaf sebesar – besarnya karena untuk bahasan ini bukan wewenang kami dan bukan dalam koridor Persaudaraan Setia Hati Terate


IV. SH Terate dan Padepokan Wesi Aji PSHT

Sebenarnya hal ini sudah kami bahas juga dalam blog ini dengan judul “ PROFIL SINGKAT PADEPOKAN WESI AJI PSHT SEMARANG“ tapi akan kami kutipkan lagi sehingga bisa menjadi bahan klarifikasi :
adepokan Wesi Aji PSHT Semarang bertujuan menyebarluaskan ilmu – ilmu “ Setia Hati Terate” yang benar, baik secara jasmani maupun secara rokhani keduanya harus seimbang ( balance ). Sehingga pembekalan dan pemahaman dalam kehidupan manusia itu sendiri untuk mencapai kesempurnaan hidup yang hakiki untuk mencapai budi luhur yang tahu benar dan salah serta harus berani mengatakan benar adalah benar apa adanya, dan salah adalah salah, sehingga hubungan manusia dengan Tuhan-Nya( Vertikal ), manusia dengan manusia ( sesama ) dan manusia dengan alam semesta ( Horisontal ) dapat berjalan dengan baik.
Pada hakekatnya Persaudaraan Setia Hati Terate dan Padepokan “ Wesi Aji “ mempunyai kecenderungan yang sama dan tidak ada celah sedikitpun dan mempunyai sifat masing – masing untuk tumbuh dan berkembang secara alamiah yang sesuai dengan kodratnya dalam mencari ilmu “ Setia Hati Terate” yang benar dan tidak mencari ilmu – ilmu yang diluar koridor Persaudaraan Setia Hati Terate, yang maksudnya ilmu yang tidak berguna bagi semua makluk hidup di sekalian alam semesta ini. Persaudaraan Setia Hati Terate tidak mengajarkan ilmu – ilmu yang sifatnya menyombongkan diri atau memamerkan di muka umum.

Kemudian untuk lebih detailnya silakan merujuk kembali artikel yang dimaksud di blog ini, untuk Padepokan Wesi Kuning adalah sama halnya dengan Padepokan Wesi Aji akan tetapi berdomisili di Madiun.


V. Arogansi dan Tawuran
Arogansi dan tawuran sangat tidak obyektif jika hanya ditujukan kepada warga PSHT saja karena hal ini sangat mungkin terjadi di Perguruan apapun dan dimanapun karena dalam PSHT tidak diajarkan hal tersebut, jika PSHT divonis seperti itu alangkah piciknya, karena hanya melihat dari sisi negatifnya tanpa melihat sisi positifnya.
Kalo kita tidak menutup mata pasti ada arogansi dan tawuran di setiap perguruan / organisasi beladiri manapun, hal ini terjadi dikarenakan kurangnya individu dalam memahami / mendalami ajaran yang ada, hal ini juga bisa disebabkan oleh kadar kualitas setiap individu. Karena kadar kualitas tiap individu berbeda sehingga dalam memahami, meresapi serta mengamalkan ajaran selama berlatih di perguruan / organisasi beladiri pasti juga akan berbeda.
Jadi alangkah bijaknya jika dalam menanggapi segala sesuatu tidak hanya dilihat dari salah satu sudut pandang sehingga akan berakibat subjektif dalam menyimpulkan suatu masalah.


Demikian tanggapan kami atas email yang masuk ke Admin, atas perhatian kami sampaikan terima kasih.



TERIMA KASIH UNTUK SEMUA KADANG PERSAUDARAAN SH TERATE

Posted by PADEPOKAN WESI AJI PSHT SEMARANG On 7.06.2008 0 comments


Kami dari Padepokan Wesi Aji PSHT Semarang mengucapkan terima kasih atas segala bantuan baik material dan moral baik secara langsung maupun tidak langsung kepada semua pihak, sehingga Pemugaran / Renovasi makam seorang tokoh yang selama ini banyak dilupakan di Makam Cangkring Madiun dapat diselesaikan, Beliau adalah RM. Soetomo Mangkoedjojo yang juga merupakan seorang perintis berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate dan juga merupakan Ketua Umum Pusat Pertama ketika Persaudaraan Setia Hati Terate dirubah dari Perguruan menjadi Organisasi.
Semoga dengan adanya perubahan ini, Paradigma Warga Persaudaraan Setia Hati Terate yang sudah umum selama ini dapat pula ikut berubah, karena selama ini yang terjadi adalah seperti adanya penenggelaman seorang tokoh. Hal ini mungkin terjadi karena sengaja untuk ditenggelaman atau karena memang ketidak tahuan akan sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate yang benar.
Seperti yang pernah di tulis oleh Alm. Mas Bambang Tunggul Wulung dalam bukunya “ Sejarah Singkat dan Perkembangannya PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE “ ,yang juga merupakan putra kandung Alm. RM. Soetomo Mangkoedjojo mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar.

ULTAH PADEPOKAN WESI AJI PSHT SEMARANG KE – 8

Posted by PADEPOKAN WESI AJI PSHT SEMARANG On 7.01.2008 0 comments


Untuk pertama kalinya acara Tasayakuran Ultah Padepokan Wesi Aji PSHT Semarang diperingati tanpa kehadiran seorang sosok yang berani, jujur, pantang menyerah dan teguh pendirian dalam meluruskan dan mengembangkan ajaran serta ilmu di Persaudaraan Setia Hati “Terate”.
Beliau adalah Alm. SF. Bambang Tunggul Wulung Judhyasmara sebagai sesepuh Padepokan Wesi Aji ( Wedar Silat Among Jiwo ) serta pencetus pendiri dari pada wadah latihan Persaudaraan Setia Hati Terate di Padepokan Wesi Aji. Walaupun beliau telah dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa tetapi semangatnya akan selalu memasuki relung hati untuk meneruskan cita – cita beliau dalam pengembangan dan pengabdian di Persaudaraan kita Setia Hati Terate pada umumnya dan Padepokan Wesi Aji khususnya.

Acara Tasayakuran Ultah Padepokan Wesi Aji yang ke-8 ini dihadiri kurang lebih 75 peserta yang merupakan perwakilan dari Ranting, Rayon serta Komisariat. Dalam acara tersebut sambutan yang biayasanya di bawakan oleh Alm. Bambang Tunggul Wulung dalam kesempatan ini di bawakan oleh Mas Andreas yang merupakan Ketua Padepokan sejak Alm. Mas Bambang Tunggul Wulung di Panggil Tuhan Yang Maha Kuasa, Mas Andreas sendiri merupakan Putra Kandumg dari Almarhum.
Dalam Sambutannya Mas Andreas menyampaikan beberapa hal diantaranya :
  • Untuk refleksi kebelakang bahwa Padepokan Wesi Aji merupakan tempat penggemblengan atau Candaradimuka untuk menjadikan manusia Persaudaraan Setia Hati Terate berbudi luhur tahu benar dan salah serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Wedar Silat Among Jiwo” adalah Ngudari / belajar silat dalam arti fisik dan bagaimana kita ngemong jiwa atau batin kita dalam kehidupan pada ajaran Ilmu Setia Hati Terate dan ini sudah jelas dalam Panca Dasar Butir Kelima yaitu Kerokhanian ( Ke – Setia Hati – an ) dan pernafasan dengan jiwa kuasai raga.
  • Untuk merapatkan barisan, berdiri tegak berjalan bersama – sama guna mengembangkan Ilmu Kehidupan yang benar dengan rasa Persaudaraan yang kekal abadi
  • Ucapan terima kasih atas bantuan Moral maupun material kepada para warga Komisariat Timor Leste yang khususnya dan Anggota Pedepokan Wesi Aji PSHT Semarang umumnya atas terlaksananya Renovasi makam Ketua Umum Pusat Pertama Persaudaraan Setia Hati Terate, R.M. Soetomo Mangkoedjojo di Makam Cangkring Madiun
  • Ucapan terima kasih kepada semua pihak baik secara langsung ataupun tidak langsung yang telah ikut serta mesukseskan acara Tasyakuran Ultah Padepokan Wesi Aji PSHT Semarang.
Kemudian acara dilanjutkan dengan Pemotongan Tumpeng yang sebelumnya diawali dengan berdoa bersama, Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Mas Andreas selaku Ketua Padepokan yang kemudian secara simbolis di serahkan kepada Mas Chandra sebagai perwakilan anggota. Kemudian acara dilanjutkan dengan ramah tamah seluruh anggota Pedepokan yang hadir. Acara Tasyakuran ditutup sekitar pukul 00.00 wib.

"Mengalahkan Diri Sendiri Lebih Mulia Daripada Mengalahkan Orang Lain”


“Api Penderitaanlah Yang Menghasilkan Emas Kesalahan".